Penyadaran hidup dan berperilaku sehat : Surplus dana BPJS
Oleh : Fitika Dian
Safitri
Sejak
awal bergulirnya fasilitas jaminan kesehatan, BPJS adalah salah satu produk yang
diluncurkan yang sebelumnya bernama ASKES. Dalam penyelenggaraannya BPJS setiap
tahunnya terus mengalami defisit yang akibatnya
menjadikan beban kepada keuangan negara hingga Rp. 4,9 triliun dan angka
tersebut belum mampu mencukupi jaminan kesehatan nasional tersebut.
Terkait
perihal ini saya mengusulkan adanya penyadaran hidup dan perilaku sehat oleh
masyarakat. Menurut saya terjadinya masalah defisit anggaran BPJS ini adalah
karena masih banyaknya warga negara yang tidak sehat. Indikatornya, dapat kita
temui di segala rumah sakit daerah maupun pusat yang melayani dengan fasilitas
lengkap pun masih menolak pasien karena keterbatasan ruangan dan bantuan medis
lainnya. Bahkan untuk melakukan operasi besar saja membutuhkan jangka waktu
yang tidak sebentar untuk mengurus dan menentukan jadwal.
Saya
tidak sependapat dengan pandangan yang mengatakan kurang tertibnya masyarakat
dalam membayar iuaran BPJS tersebut, karena realitas mengatakan sebagaian besar
pemilik BPJS kelas 1 pun sudah sangat tercekik dengan iuran hingga Rp. 80.000
dengan keadaan semua harga pasar untuk kebutuhan sehari-hari pun naik. Pasalnya
iuran BPJS pun tidak menjamin pembebasan pembiayaan pengobatan seratus persen.
Maka
dari itu solusi terbaik dalam upaya ini adalah adanya penyadaran dan kesadaran
masyarakat dalam hidup sehat seperti tidak membuang sampah disungai, pola hidup
sehat, tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dengan bahan pengawet, dan
lain sebagainya. Hal terseut lebih efektif ketimbang menaikan iuran BPJS yang
malah semakin tidak manusiakan masyarakat, dalam keadaan sakit harus iuran banyak
dan membayar lagi biaya rumah sakit.
Kamis, 1 November 2018
21.15
Comments