100 Hari Pernikahan
Aku selalu bisa tenang ketika kau mengucapkan itu, bukan hal mudah melewati tahun pernikahan pertama ini. Namun bukan hal yang teramat berat juga.
Terimakasih suamiku, selalu kuat dengan sifatku yang jauh lebih muda darimu sehingga terkadang aku bersikap seperti adek-adek suka nangis, ngambek, dan belum bisa membantumu dalam mengurus rumah.. bukan tidak mau, males atau tidak bisa hanya saja aku ini terbiasa melakukan hal apapun sendiri dengan otoritas diri namun kalau dirumah biasanya sudah ada yang bantuin urusan rumah.
Terimakasih... kamu sangat memahami itu dan tidak mempermasalahkan.
Setelah sibuk mempersiapkan pernikahan, umumnya pasangan akam berlibu ke tempat impian mereka memgistilahkan bulan madu begitu katanya untuk mewujudkan momen bersama.
Kita juga memiliki momen bersama meski berbeda tapi ini juga impian bersama, seusai pernikahan kita memilih berlembur mengerjakan tugas akhirmu, membuatku belajar lagi dan menemukan pengalaman baru. Ini adalah impian bersama kita, kelulusanmu bukan hanya milikmu lagi, karena setelah ini kehidupanku mulai menjadi tanggung jawabmu. Maka ku dampingi engkau menyelesaikan studi dan masa bakti himpunan yang kau pimpin.
Terimakasih sudah berusaha lulus dan menyelesaikan masa bakti himpunan menurut versi terbaikmu. Aku akan selalu mendukungmu dan aku percaya kamu bisa di ajak ke pencapaian lainnya karena "Man with dream needs woman with vision".
Dua minggu pernikahan... Aku pamit yah, hati-hati di rumah dan mohon maaf belum bisa memenuhi kewajiban untuk beberapa bulan karena aku harus mengejar ketertinggalan cuti kuliah selama sebulan dan kamu harus penuhi syarat administrasi wisuda, besok aku pulang saat wisudamu. Terimakasih telah ridha dan mengizinkan, akan ku usahakan yang terbaik dengan mempertehankan kumulatif cumlaude.
Terimakasih untuk teman, sahabat, senior, dan keluarga yang selalu menasihati. Memberikan kami bekal untuk menghadapi fase kehidupan berumah tangga termasuk soal financial. Tabungan kita sudah banyak berkurang dan belum ada lagi pendapatan, bahkan aku terkadang menangis ketakutan akan hal-hal ke depan. Tapi kau selalu menguatkan, berbisik memohon maaf dan memnitaku kuat. Aku pun hanya mampu memgokohkan diri dan mempercayakan segalanya pada Allah "aku tidak apa-apa sayang, tak ada yang dimakan kita bisa puasa bareng dan sedikit mengirit untuk tidak jajan", meski aku sendiri getir mengatakannya tapi aku tak ingin membuat berat dirinya karena aku sendiri tidak akan pernah tau apa yang di rasakannya.
Kita percaya saja bahwa Allah yang akan mengaturnya.
Alhamdulillah tuhan selalu baik, dengan kita menghemat pasca menikah kita masih di izinkan pergi ke ibukota untuk menjenguk orangtua dan mengikuti International Coference untuk Jurnalki. Lagi-lagi kehidupan ini harus selalu kita syukuri, sedikit demi sedikit kita melewati fase pernikahan kita.
Entah ini hari ke berapa pernikahan kita, dan berapa kali kita menghemat tabungan kita. Bismillah... kita hidup berdua. Banyak keluarga yang dibikin heran kepalang dengan keputusan kita untuk hidup mandiri berdua dengan mencari tempat tinggal di luar sedangkan kita belum memiliki usaha sebagai pendapatan.
Aku memahami kekhawatirannya, namun aku khawatir dengan kebelum relaan mereka membebani langkah hidup, usaha dan rezeki kita. Maka bersabarlah sayang, jelaskan pada mereka bahwa setiap fase awal rumah tangga tidak ada yang langsung mapan sempurna, berlapang hati lah dengan segala masuka, saran, argumentasi apapun dari keluarga. Apapun keadaannya meski hanya mengandalkan sisa tabungan saja, kita harus yakin rencana Allah pasti yang terbaik. Kita hanya wayangnya, maka harus memainkan sebaik dan apik mungkin untuk tak membuatNya marah. Kita cukup mengharap Allah tak marah saja pada kita, karena cinta kasihnya selalu melebihi yang kita harapkan.
Terus kuat sayang, tetep berusaha, sama-sama belajar, dan Sakinah dengan mawadah dan rahmah-Nya.
Tidak ada lagi aku dan kamu, kini semua menjadi kita. Sudah waktunya kesampingkan ego. Siapkan diri untuk kuat dan penuh pendirian dalam setiap menghadapi masalah karena keutuhan rumah tangga adalah yang kita perjuangkan bersama. Jodoh bukan berati sama dan kita berbeda untuk saling melengkapi. Karena membangun rumah tangga bukan sekedar membangun rumah saja.
Seberat apapun kedepan, sekuat apapun masalah dan cobaan, kita harus bertahan dengan penuh kepercayaan.
Kepercayaan bahwa meyakini Allah pada saat kita tidak memahami apapun rencananya, bukankah rencana Allah sebaik-baik rencana?
Comments